Sobat, pernahkah dirimu merasakan apa yang sedang ku rasakan saat ini? Rasa bersalah yang teramat sangat. Jauh dari orang tua yang sekarang hanya tinggal bertiga, bersama adik yang masih kecil.
Sewaktu bayi, entah berapa kali kita mengganggu tidur nyenyak ayah yang mungkin sangat kelelahan setelah seharian bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Mungkin juga kotoran kita ikut tertelan ibu ketika kita buang air besar disaat ibu sedang makan. Ibu juga tidak peduli ketika teman-temannya marah karena membatalkan acara yang sangat penting karena tiba-tiba anaknya sakit. Kekhawatiran demi kekhawatiran tiada pernah henti mengunjungi mereka setiap kali kita melangkah.
Beranjak dewasa, betapa tabahnya ayah dan ibu menerima pembangkangan demi pembangkangan yang kita lakukan. Mereka hanya bisa mengelus dada karena teman-teman di luar sana lebih berarti daripada mereka. Jarang sekali kita mau menyisakan waktu untuk menyelami mimik wajah mereka yang penuh kecemasan ketika kita pulang telat karena ayah dan ibu selalu menyambut kita dengan senyum.
Sobat, pernahkah dirimu bangun tengah malam dan mendengar tangisan ibu dalam doanya seperti yang pernah aku dengar?
Tangisan dan doa itulah yang mengantar kesuksesan kita. Pernahkah kita tahu ayah dan ibu terluka dan mengiba kepada Allah agar kita jangan dilaknat, agar Allah mau mengampuni kita dan memberikan kehidupan terbaik untuk kita? Astangfirullahal’adzim.
Pernahkah kita berterima kasih ketika kita dapati ayah dan ibu berbicara berbisik-bisik karena takut membangunkan kita yang tertidur kelelahan? Pernahkah kita menghargai patah demi patah kata yang mereka susun sebaik mungkin untuk meminta maaf karena tidak sengaja memecahkan kristal kecil hadiah ultah teman kita? Pernahkah kita menyesal karena lupa menyertakan mereka di dalam doa?
Ah sobat, betapa tak sebanding cinta dan pengorbanan mereka dengan balasan kasih sayang yang kita berikan. Setelah dewasa dan bisa “menghidupi” diri sendiri, kita masih bisa melenggang ringan meninggalkan mereka (mereka ikhlas asal kita bahagia). Lalu, mungkinkah kita bisa seperti Ismail yang merelakan dirinya disembelih ayah kandung demi menuruti perintah Allah? Atau seperti Musa yang dihanyutkan ketika bayi?
Ternyata kita masih sangat jauh…
Lalu bakti seperti apakah yang bisa kita persembahkan?
Sobat, bantu aku agar optimis! Ya, masih ada banyak waktu untuk membahagiakan mereka. Hal yang terkecil yang bisa kita lakukan adalah tak mengatakan “tidak” ketika mereka menyuruh atau mengiginkan sesuatu (tentu saja bukan yang bertentangan dengan agama) dan segera ambil alat komunikasi, hubungi mereka saat ini juga, sapa mereka dengan hangat, pastikan nada suara kita bahagia. Bahagiakan ayah, bahagiakan ibu! Mulai dari sekarang, selagi Allah masih memberi kesempatan. Walau ta ‘kan pernah sebanding, doa-doa kitalah yang mereka harapkan menemani di peristirahatan terakhir nanti.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sedari kecil. Jadikan kami termasuk anak-anak yang shaleh/ shalehah ya Rabb hingga kami termasuk doa-doa yang Engkau ijabah. Amin.
assalamualaikum.....!!!
wah wah dimanaki' tinggal di pangkep kita k'indra?
yang saya tau kita orang pangkep ta[pi ndakutahu di mana keberadaanta di pkp!!!!
and sd dimanaki' doeloe!?????????????????
kehadiran akan seorang aku yang merupakan ciptaan dari sang maha kuasa cuma bisa menyadari bahwa aku adalah aku. marilah kita mencari keagungan yang nyata.